Alhamdulillah Ya Allah 😇 ðŸ˜
Sebelum mengangkat takbir rakaat pertama sempat terbersit dalam pikiranku apakah aku pantas berada di sini? Apakah aku pantas berdiri paling depan memimpin salah satu sholat paling sakral bagi umat Islam? Apakah aku pantas? Iman dan akhlakku masih belum baik. Diri ini masih sering khilaf dan meninggalkan perintahMu.
Namun pada akhirnya semua berjalan dengan baik. Tiap-tiap rakaat berhasil kulewati dengan baik. Surah-surah, bacaan takbir, dan doa penutup berhasil aku baca dengan fasih dan lancar.
Aku malu Ya Allah. Aku merasa malu dihadapanmu. Engkau masih terus membantuku meskipun diri ini masih belum istiqomah menjalankan segala perintahMu. Ampuni hambamu ini Ya Rabb.
Terima kasih yang tak terhingga kuucapkan padamu Ya Rabb.
Taqaballahu Minna Wa Minkum
Minal Aidin Wal Faizin. Mohon Maaf Lahir dan Batin.
-Kotamobagu, 24 Mei 2020-
new
Sabtu, 23 Mei 2020
Sabtu, 25 April 2020
Untitled
Selamat siang semuanya
Setelah sekian lama akhirnya saya kembali membuka dan menulis di blog ini. Banyak hal yang terjadi belakangan ini. Yang paling tersohor adalah pandemi COVID-19 yang melumpuhkan hampir semua aktivitas yang ada. Ramadhan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana ketika Ramadhan tiba orang-orang berbondong-bindong datang ke masjid untuk sholat berjamaah, menyelenggarakan ataupun menghadiri acara buka bersama (re: bukber), dan lain-lain.
Ramadhan di masa pandemi COVID-19 ini seakan menjadi tamparan bagi kita semua yang dulunya malas datang ke masjid. Giliran masjid ditutup baru kalian sadar akan nikmatnya beribadah di masjid, sebelumnya kalian kemana? oh iya kalian ternyata terlalu sibuk dengan kenikmatan dunia hehehe.
Semoga pandemi ini cepat berlalu sehingga kita bisa kembali beraktivitas seperti biasa, Aamiin
Lupakan soal pandemi COVID-19. Saat ini berbagai macam opini dan kemungkinan saling baku hantam di dalam otakku. Memang benar yang dikatakan banyak orang, memahami perempuan itu sulit sekali. Dan inilah yang aku alami saat ini.
"Kamu masih belum dewasa. Kamu masih childish." begitu kalimat yang kembali ia lontarkan kepadaku. Kalimat yang selalu menghantamku. Kalimat yang selalu menjadi batu sandunganku. Dia mengatakan kalau selama ini dialah yang selalu mengambil keputusan. At some time mungkin iya. Namun menurutku dialah yang terlalu dominan. Ketika aku ingin mengambil keputusan, dia langsung mendesain situasi seakan-akan dialah yang harus memutuskan suatu persoalan. Seperti Bulan Desember kemarin ketika ia meminta untuk break sejenak. Aku ingin menyela. Aku ingin meminta penjelasan yang lebih detail, yang mana menurutku keputusan tersebut bersifat terburu-buru. Okelah jika dia minta break sejenak, tapi apakah harus dengan memblokku di hampir semua social media ataupun media komunikasi?. WA, separuh IG, dan twitterku diblok. Aku masih belum mengerti dengan jalan pikirannya. Alasan yang sering ia lontarkan adalah dia galau dengan kondisi ibunya yang sekarang lagi sakit. Namun haruskah hanya dengan alasan itu dia mengabaikanku begitu saja?. Aku mengerti dengan kondisi ibunya saat ini. Aku mengerti bagaimana pikirannya carut-marut menghadapi situasi ini. Masalah kuliah, pekerjaan, dan ortu seakan menjadi hantaman baginya. Tapi bukankah akan lebih baik jika hal tersebut kita hadapi bersama? Bukannya kau hadapi sendiri. Maafkan aku jika aku egois, yang ingin selalu masuk ke dalam kehidupanmu. Tapi aku tahu dan aku bisa melihat kalau kau tidak kuat jika harus menghadapi ini sendiri. Kau butuh teman. Kau butuh seseorang untuk selalu menguatkanmu. Jangan egois seolah kau bisa menghadapinya sendiri.
Pada akhirnya aku hanya bisa menerima kenyataan ini. Aku masih ingin terus bersamanya. Padanya aku menemukan ketenangan dan kedamaian. Hanya padanya aku bisa berkeluh kesah dan bersikap apa adanya.
Dia bilang kalau ia masih mencintaiku. Tapi yang kulihat dia mencintaiku karena terpaksa, bukan mencintaiku apa adanya.
Maaf jika aku masih belum sesuai dengan ekspektasimu. Maaf.
Setelah sekian lama akhirnya saya kembali membuka dan menulis di blog ini. Banyak hal yang terjadi belakangan ini. Yang paling tersohor adalah pandemi COVID-19 yang melumpuhkan hampir semua aktivitas yang ada. Ramadhan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana ketika Ramadhan tiba orang-orang berbondong-bindong datang ke masjid untuk sholat berjamaah, menyelenggarakan ataupun menghadiri acara buka bersama (re: bukber), dan lain-lain.
Ramadhan di masa pandemi COVID-19 ini seakan menjadi tamparan bagi kita semua yang dulunya malas datang ke masjid. Giliran masjid ditutup baru kalian sadar akan nikmatnya beribadah di masjid, sebelumnya kalian kemana? oh iya kalian ternyata terlalu sibuk dengan kenikmatan dunia hehehe.
Semoga pandemi ini cepat berlalu sehingga kita bisa kembali beraktivitas seperti biasa, Aamiin
Lupakan soal pandemi COVID-19. Saat ini berbagai macam opini dan kemungkinan saling baku hantam di dalam otakku. Memang benar yang dikatakan banyak orang, memahami perempuan itu sulit sekali. Dan inilah yang aku alami saat ini.
"Kamu masih belum dewasa. Kamu masih childish." begitu kalimat yang kembali ia lontarkan kepadaku. Kalimat yang selalu menghantamku. Kalimat yang selalu menjadi batu sandunganku. Dia mengatakan kalau selama ini dialah yang selalu mengambil keputusan. At some time mungkin iya. Namun menurutku dialah yang terlalu dominan. Ketika aku ingin mengambil keputusan, dia langsung mendesain situasi seakan-akan dialah yang harus memutuskan suatu persoalan. Seperti Bulan Desember kemarin ketika ia meminta untuk break sejenak. Aku ingin menyela. Aku ingin meminta penjelasan yang lebih detail, yang mana menurutku keputusan tersebut bersifat terburu-buru. Okelah jika dia minta break sejenak, tapi apakah harus dengan memblokku di hampir semua social media ataupun media komunikasi?. WA, separuh IG, dan twitterku diblok. Aku masih belum mengerti dengan jalan pikirannya. Alasan yang sering ia lontarkan adalah dia galau dengan kondisi ibunya yang sekarang lagi sakit. Namun haruskah hanya dengan alasan itu dia mengabaikanku begitu saja?. Aku mengerti dengan kondisi ibunya saat ini. Aku mengerti bagaimana pikirannya carut-marut menghadapi situasi ini. Masalah kuliah, pekerjaan, dan ortu seakan menjadi hantaman baginya. Tapi bukankah akan lebih baik jika hal tersebut kita hadapi bersama? Bukannya kau hadapi sendiri. Maafkan aku jika aku egois, yang ingin selalu masuk ke dalam kehidupanmu. Tapi aku tahu dan aku bisa melihat kalau kau tidak kuat jika harus menghadapi ini sendiri. Kau butuh teman. Kau butuh seseorang untuk selalu menguatkanmu. Jangan egois seolah kau bisa menghadapinya sendiri.
Pada akhirnya aku hanya bisa menerima kenyataan ini. Aku masih ingin terus bersamanya. Padanya aku menemukan ketenangan dan kedamaian. Hanya padanya aku bisa berkeluh kesah dan bersikap apa adanya.
Dia bilang kalau ia masih mencintaiku. Tapi yang kulihat dia mencintaiku karena terpaksa, bukan mencintaiku apa adanya.
Maaf jika aku masih belum sesuai dengan ekspektasimu. Maaf.
Sabtu, 13 Oktober 2012
Chapter 3, Cerita selingan
Pada umur 3 tahun saya diajak oleh kedua orang tua saya pergi ke pernikahan saudara saya yang ada di Jakarta, satu hal yang cukup langka bagi saya karena untuk pertama kali saya pergi ke Ibu kota negara. Saya masih sedikit ingat apa-apa saja yang saya lakukan selama kurang lebih dua minggu saya berada di Jakarta. Saya masih ingat ketika naik mobil menuju ke pelabuhan bitung selalu lagu yang diputar di dalam mobil adalah lagu Bollywood :D, mungkin disitulah awal saya suka musik bolywood sewaktu saya kecil.
Ketika dalam perjalanan di kapal laut menuju jakarta, hampir setiap hari saya menuju ke bagian atas kapal untuk melihat pemandangan laut yang begitu indah sampai-sampai om-om saya kewalahan menjaga saya karena selalu melihat pemandangan laut =)).
Ketika sudah sampai di Jakarta saya pun tinggal di rumah tante saya di pondok gede bekasi jawa barat. Disana saya bertemu dengan ka' Ula, ka' Renny dan keluarga2 lain yang berada di jakarta. Saya masih sedikit ingat ketika saya pergi ke Ancol dan naik bianglala yang sangat tinggi dan besar. Ketika bianglala tersebut berhenti dan saya dan ibu saya persis berada di puncak bianglala tersebut, saya langsung menangis minta turun karena pada waktu itu saya sangat takut ketinggian dan mungkin sampai sekarang masih takut dengan ketinggian :D.
Ketika dalam perjalanan di kapal laut menuju jakarta, hampir setiap hari saya menuju ke bagian atas kapal untuk melihat pemandangan laut yang begitu indah sampai-sampai om-om saya kewalahan menjaga saya karena selalu melihat pemandangan laut =)).
Ketika sudah sampai di Jakarta saya pun tinggal di rumah tante saya di pondok gede bekasi jawa barat. Disana saya bertemu dengan ka' Ula, ka' Renny dan keluarga2 lain yang berada di jakarta. Saya masih sedikit ingat ketika saya pergi ke Ancol dan naik bianglala yang sangat tinggi dan besar. Ketika bianglala tersebut berhenti dan saya dan ibu saya persis berada di puncak bianglala tersebut, saya langsung menangis minta turun karena pada waktu itu saya sangat takut ketinggian dan mungkin sampai sekarang masih takut dengan ketinggian :D.
Banyak perjalanan2 yang lain yang saya lakukan di sana seperti pergi ke monas, TMII dan waterboom tetapi saya sudah tidak terlalu ingat perjalanan2 tersebut karena maklumlah memori anak2 itu belum terlalu di khususkan untuk mengingat semua hal sehingga saya tidak terlalu ingat.
Saya juga ingat ketika itu saya sangat suka dengan film2 bollywood dan film yang paling berkenan di hati saya adalah film kuch kuch hota hai, film yang ketika saya menontonnya pasti langsung terbayang masa2 kecil saya :')
Memang masa kecil merupakan salah satu roda kehidupan yang pasti semua manusia pasti akan merasakannya dan saya pun merasa bahagia dapat melewati masa-masa tersebut dengan orang-orang saya cintai terutama almarhum opa saya :')
Chapter 2, Cerita singkat pada umur 1-5 tahun
Nah sekarang kita lanjutin apa yang sudah saya post di chapter 1. Di usia 1-5 tahun adalah usia dimana kita mulai belajar banyak hal-hal yang dasar seperti berbicara, makan, minum dan lain-lain yang bersifat universal.
Masa kecil saya tidak banyak dihabiskan di rumah saya sendiri melainkan di rumah sebelah :D. Hehehe tapi bukan sembarang tetangga karena rumah opa berada di samping rumah sehingga hampir setiap hari saya menghabiskan waktu bermain di rumah opa.
Kebetulan karena saya adalah cucu laki-laki pertama dalam keluarga besar Ani-Mokodongan maka saya mendapat perhatian yang lebih dari opa. apapun kemauan yang dimana orang tua saya tidak menyetujuinya maka opa pasti akan membela saya.
Untuk masalah pertemanan, pada waktu kecil saya punya 2 teman yang setiap hari selalu bermain dengan saya yaitu fadel dan icha. Keduanya hampir setiap hari mengunjungi rumah saya untuk bermain bersama. Main mobil-mobilan, perang-perangan dan lain-lain adalah permainan rutin yang hampir setiap hari saya mainkan bersama mereka.
Masa kanak-kanak merupakan masa-masa yang tak akan pernah saya lupakan. Setiap hari orang tua, opa, oma, tante dan masih banyak lagi selalu mengisi hari-hari saya dan semuanya terasa begitu indah hingga saya ingin meneteskan air mata ketika mengingat masa-masa tersebut :'( :'(.
Di masa ini saya masih dapat merasakan betapa susahnya ayah dan ibu mencari nafkah hanya untuk membeli susu dan kebutuhan lain yang saya perlukan. Tiap hari mama bekerja sebagai karyawan di Abdi Supermarket dan ayah menjaga saya di rumah. Ketika mama berhenti kerja, ayah saya pernah menjadi pengemudi bentor agar mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Satu hal yang mungkin adik-adik saya tidak sempat merasakannya adalah bagaimana perjuangan mama dan papa ketika masih belum seperti sekarang ini sehingga mereka seenaknya saja meminta sesuatu pada mama dan papa padahal mereka tidak tau butuh perjuangan yang keras untuk bisa mendapatkan uang demi menghidupi keluarga kecil mereka. Untungnya ada opa yang selalu menghibur saya setiap hari agar tidak merengek saat mama sementara pergi bekerja.
Selasa, 09 Oktober 2012
Chapter 1, a little introducing
perkenalkan nama saya Kurniawan Julianto Ani. Saya lahir di kota yang kecil tapi sangat berkesan buat saya karena disanalah saya dilahirkan, disanalah saya belajar, disanalah saya berjalan tiap hari, disanalah saya menemukan banyak teman dan banyak lagi yang tidak dapat saya deskripsikan satu per satu :D, dan kota itu adalah Kota Kotamobagu "My Lovely Village".
Saya adalah anak pertama dari pasangan bapak Faisal Ani, SE dan ibu Oriyane Kolibu.
Selama kurang lebih 12 tahun saya menghabiskan masa-masa kecil hingga setengah masa remaja saya. hehehe kenapa demikian karena saya SMA di Gorontalo dan kuliah di Makassar :)
Untuk malam ini cukup sampai disini dulu testimoninya yak. dan sekarang jam telah menunjukkan pukul 01:11 WITA, angka yang mengingatkanku pada seseorang :D. miss you my Mrs.E
Saya adalah anak pertama dari pasangan bapak Faisal Ani, SE dan ibu Oriyane Kolibu.
Selama kurang lebih 12 tahun saya menghabiskan masa-masa kecil hingga setengah masa remaja saya. hehehe kenapa demikian karena saya SMA di Gorontalo dan kuliah di Makassar :)
Untuk malam ini cukup sampai disini dulu testimoninya yak. dan sekarang jam telah menunjukkan pukul 01:11 WITA, angka yang mengingatkanku pada seseorang :D. miss you my Mrs.E
Langganan:
Komentar (Atom)