Sabtu, 25 April 2020

Untitled

Selamat siang semuanya

Setelah sekian lama akhirnya saya kembali membuka dan menulis di blog ini. Banyak hal yang terjadi belakangan ini. Yang paling tersohor adalah pandemi COVID-19 yang melumpuhkan hampir semua aktivitas yang ada. Ramadhan tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dimana ketika Ramadhan tiba orang-orang berbondong-bindong datang ke masjid untuk sholat berjamaah, menyelenggarakan ataupun menghadiri acara buka bersama (re: bukber), dan lain-lain.

Ramadhan di masa pandemi COVID-19 ini seakan menjadi tamparan bagi kita semua yang dulunya malas datang ke masjid. Giliran masjid ditutup baru kalian sadar akan nikmatnya beribadah di masjid, sebelumnya kalian kemana? oh iya kalian ternyata terlalu sibuk dengan kenikmatan dunia hehehe.

Semoga pandemi ini cepat berlalu sehingga kita bisa kembali beraktivitas seperti biasa, Aamiin

Lupakan soal pandemi COVID-19. Saat ini berbagai macam opini dan kemungkinan saling baku hantam di dalam otakku. Memang benar yang dikatakan banyak orang, memahami perempuan itu sulit sekali. Dan inilah yang aku alami saat ini.

"Kamu masih belum dewasa. Kamu masih childish." begitu kalimat yang kembali ia lontarkan kepadaku. Kalimat yang selalu menghantamku. Kalimat yang selalu menjadi batu sandunganku. Dia mengatakan kalau selama ini dialah yang selalu mengambil keputusan. At some time mungkin iya. Namun menurutku dialah yang terlalu dominan. Ketika aku ingin mengambil keputusan, dia langsung mendesain situasi seakan-akan dialah yang harus memutuskan suatu persoalan. Seperti Bulan Desember kemarin ketika ia meminta untuk break sejenak. Aku ingin menyela. Aku ingin meminta penjelasan yang lebih detail, yang mana menurutku keputusan tersebut bersifat terburu-buru. Okelah jika dia minta break sejenak, tapi apakah harus dengan memblokku di hampir semua social media ataupun media komunikasi?. WA, separuh IG, dan twitterku diblok. Aku masih belum mengerti dengan jalan pikirannya. Alasan yang sering ia lontarkan adalah dia galau dengan kondisi ibunya yang sekarang lagi sakit. Namun haruskah hanya dengan alasan itu dia mengabaikanku begitu saja?. Aku mengerti dengan kondisi ibunya saat ini. Aku mengerti bagaimana pikirannya carut-marut menghadapi situasi ini. Masalah kuliah, pekerjaan, dan ortu seakan menjadi hantaman baginya. Tapi bukankah akan lebih baik jika hal tersebut kita hadapi bersama? Bukannya kau hadapi sendiri. Maafkan aku jika aku egois, yang ingin selalu masuk ke dalam kehidupanmu. Tapi aku tahu dan aku bisa melihat kalau kau tidak kuat jika harus menghadapi ini sendiri. Kau butuh teman. Kau butuh seseorang untuk selalu menguatkanmu. Jangan egois seolah kau bisa menghadapinya sendiri.

Pada akhirnya aku hanya bisa menerima kenyataan ini. Aku masih ingin terus bersamanya. Padanya aku menemukan ketenangan dan kedamaian. Hanya padanya aku bisa berkeluh kesah dan bersikap apa adanya.

Dia bilang kalau ia masih mencintaiku. Tapi yang kulihat dia mencintaiku karena terpaksa, bukan mencintaiku apa adanya.

Maaf jika aku masih belum sesuai dengan ekspektasimu. Maaf.